Selasa, 15 Januari 2019

Ya ALLAH, bilakah kudapat membayangkan indah-Mu
Membayangkan surga-Mu saja ku tak mampu

Engkau Sang Pelukis pelangi
Penghibur bagi yang bermimpi

Harapan terpancar bagi semesta
Yang lelah bercinta dengan nestapa

Sentuhan itu, menentramkanku
Mengembalikan syaraf-saraf beku
Ke dalam damai syahdu
Engkau satu terpadu

Engkau yang menanamkan asa

Liwajhillah...
Liwajhillah...

Adalah wajah-Mu sumber segala rasa

Merekahlah bermekaran di taman ilah


Lara menggema dalam paras asmara
Tuhanku ya ilahi, tolong pegangi
Bergetar jiwa melesatkan panah do'a
Eli eli lamaa sabakhtani

Sejarah berdarah tegar bersaksi
Melambungkan lafaz sakti

Puisi Kau Kekasih


Kau Kekasih


Jika Kau memanggilku
Luluh sudah, bergetar jiwa ragaku
Merintih menangis dalam syahdu
Rindu yang bersatu padu

Kekasihku,
Kekasih para Anbiya'
Kekasih para 'ulama'
Kekasih para auliya'
Kekasih para syuhada

Meledak tangisku mengharapkan cinta-Mu
Memelas akan kasih sayang-Mu
Merintih perih dalam malu
Siapalah aku...?

Berbisik hati getir pintaku,
Beri untukku waktu
Lepas dari kubangan salah dan dosa
Kembali pada-Mu damai bahagia

Kanvas Hidupku

Kanvas Hidupku


Tak cukup melukiskan suasana hatiku ke dalam kanvas maya. Tak reda gelisahku kutumpahkan ke dalam puluhan syair. Aku tak memiliki pena untuk menyusun rangkaian kisah biru. Tak kuasa kupinjam matamu untuk bisa kulihat indahnya hamparan hijau dari awangan. Tak ada dayaku merajuk kepada semesta untuk bercengkrama dengan mesra, menemaniku.

Bukan ranahku menamai itu sebagai hak. Menggagahi ilmu yang tertanam, dipolakan sejak dahulu. Memporakporandakan bangunan hukum yang mendakwai setiap waktu.

Adalah titahmu yang melawan titah-Nya. Aku yang termangu menyaksikan peran-peran para lakon. Berlaga gagah menyambarkan pedang-pedang tajam mengkilat dari dinding ke dinding. Sesekali akulah yang tertebas sambaran pedang-pedang itu.

Tak banyak yang ingin kusampaikan. Bahkan inipun tak mau kulakukan. Cobalah, berpikir lebih wajar. Yang kau namakan sebagai kemunafikan, bagiku sebuah kepatuhan. Kepada siapa? Kepada Dia  Pemilik segala otoritas.

Goresan pena sudah ditetapkan atasku. Hanya itu yang aku tahu.

Rabu, 09 Januari 2019

Puisi Cinta Kita di Ujung Senja


Cinta Kita, di Ujung Senja

Kasihku sepenggalan awan,
Lambaiannya kelabu menutupi
Lengkungan 7 warna yang berjajar rapi
Dari baliknya sang mentari menghentak, menggiringnya pergi
Menyembulkan  pelangi
Indah terlukis dari tepi ke tepi

Kekasihku yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya,
Aku yang duduk termenung di taman-taman syahdu
Memanggil kisah demi kisah, langkah-langkah kecil kita
Membangun kesungguhan niat membina rumah tangga
Ikatannya semakin menguat seiring berdatangannya bidadara-bidadari kecil
Yang sebagiannya kini bahkan sudah lebih kekar dibandingkan denganmu ^_^
Anak-anak kita.

Di ujung senja kusadari
Kaulah cinta sempurnaku dalam ketidaksempurnaanmu
Kaulah satu diantara seribu
Yang membakar awan, menunggangi pelangi, menghiasi lampu-lampu di sudut-sudut kamar sepi
Riaknya menyemarakkan hari demi hari.

Siang dan malam kini kian berganti
Lembayung senja tersenyum melihat kita
Cinta tidak sempurnamu, menyempurnakan ketidaksempurnaan satu cinta, milikku
Kau ikatkan ini dengan kesungguhan komitmen
Dan aku menari-nari dalam alunan musik ciptaanmu.

Sungguh, ini terlampau indah bagiku.

_AiWida_
#inspirasi kisah bunda @⁨Sri kartini⁩ 🌷

Minggu, 06 Januari 2019

Puisi Semburat Harapan

Semburat Harapan

Pandanganku tak memiliki warna untuk ini
Tak ada suara yang menegaskan indahmu
Tidak pula gurat wajah
Menyeruakkan kemantapan hati serupa keyakinan
Saksi bisu sejarah lalu hanya terus membisu
Kelamnya tak mau membiru
Tak seperti bunga-bunga bermekaran di musim semi
Indahmu hanya serupa kuncup yang tak kunjung berkembang

Duhai bayangan...
Cepatlah memudar
Agar aku bisa segera berpendar
Serasi langit, awan, matahari dan bulan berkelindan
Mengurus bumi, menumbuhkan harapan-harapan
Dimana jasad-jasad bernyawa menanti karyaku
Menanti kepalan tanganku menyibak kemaha masa bodohan manusia-manusia
Yang terlena oleh tipuan dunia

Wahai dirimu yang tak jua berwujud,,,
Datanglah
Atau menghilanglah!
Agar aku bisa melanjutkan hidup.

Aku bukanlah mereka yang merenda asmara di dalam hamparan jarak
Aku bukanlah burung-burung merindu padang-padang tak bertepi
Aku hanya seonggok manusia kecil yang membutuhkan sejuknya embun
Memadu kasih dengannya dan menyentuh asmaranya
Nyata kesegarannya dapat kusentuh setiap pagi


Pikiranku,
Berdamailah dengan hatiku
Agar seisi dunia dapat merasakan kehadiranmu di dunia ini
Sebuah sentuhan bermakna yang selalu menjadi tujuan hidupmu

Kamu!  yang ada di cermin di hadapanku itu,
Bergegaslah!
Waktumu tidaklah lama.
Sebelum episodemu digantikan oleh yang lebih baik
Sebelum Sang Maha menyetujui sang malaikat maut
Dan menyudahi jatahmu
Menguntai cita-cita dan harapan

Bergegaslah!

Puisi Manusia Langit

Manusia Langit


Tidak cukup melafalkan beribu kata
Butuh satu dua saja hunjaman tekad membaja

Geliatnya menembus langit ketujuh
Do'a dan ikhtiar dari seorang hamba
Rahib di tengah malam
Singa di siang terang

Langkahnya mengguncang dunia
Uluran tangannya menyemai cinta seisi dunia

Kau tahu? Dia ada dimana-mana
Hanya sedikit yang sepopuler Salahuddin
Akan tetapi nama mereka melangit
Harumnya menyeruak di permukaan bumi
Tanpa siapa tahu darimana itu asalnya

Sang pahlawan dalam kesejatiannya tersembunyi
Jauh ke dasar bumi
Penduduk bumi mungkin tidak mengenalnya
Akan tetapi penduduk langit begitu mengelu-elukannya

Tahukah kau? Mungkin salah satu dari mereka itu adalah dirimu ^_^

Duhai, buluh perindu
Gema suaramu merdu
Ditiup angin menumbuhkan berbagai rasa syahdu
Cinta-Nya yang menggebu

Bilakah, aku...
Menjadi satu diantaranya.

_Aiwida_